Selamat Datang di SFX Community
Peraturan SFX Community :
1. Dilarang berkomentar dengan menghina SARA(Suku,Agama,Ras, Antar Golongan)
2. Silahkan download link yang tertera di postingan website ini
3. Bantu dengan donasi klik anda dengan cara mengklik iklan disamping kiri atau dibawah judul postingan
4. Software yang kami berikan tidak bertanggung jawab atas pemakaian diluar batas
5. Serial Number, Aktifasi Kunci software yang sudah kadarluwarsa harap diberi tahu agar dapat diupdate
6. Kami sedang membangun website tutorial, belanja, pemesanan DVD
7. Tolong anda sebagai pengujung website kami dengan klik iklan kami

Terima Kasih sudah membaca peraturan SFX Community


Saturday, December 6, 2014

Antara Takdir, Morrissey, dan Roy Keane

Cheat FREE
Takdir dan perpisahan siapa yang tahu. Tapi, kalaulah boleh meminta, ketika takdir memutuskan perpisahan janganlah mengasihani. Cukuplah mengenang saja.

Sekelebat, itulah yang diminta oleh Morrissey dan juga Roy Keane ketika mereka mengucapkan salam perpisahan masing-masing. Yang satu mengutarakannya dengan sejumput sedih di hadapan ribuan orang yang memadati O2 Arena, London, di ujung November. Sementara yang lainnya mengucapkan salam perpisahan kepada Aston Villa dengan nada yang lebih kalem beberapa hari sebelumnya.

"Remember me, forget my fate," ucap Morrissey, seakan-akan meminta dirinya untuk tidak dikasihani, terlepas dari apapun yang akan terjadi padanya setelah malam itu. Lantas, dengan iringan piano dia menyanyikan balada milik The Smiths, yakni Asleep. "Sing me to sleep, sing me to sleep. I'm tired and I want to go to bed."

Konon, ketika masih bernyanyi bersama The Smiths, Morrissey hanya pernah satu kali membawakan Asleep. Entah kenapa, dia memilih momen di ujung malam itu untuk melantunkan Asleep kembali.

Melankolia merebak. Beberapa yang menyaksikan konser tersebut secara langsung tak bisa mengenyahkan pikiran bahwa bisa jadi itulah terakhir kalinya menyaksikan Morrissey bernyanyi. Sudah beberapa bulan terakhir dia berjuang melawan kanker, menyebabkan konsernya di sana-sini batal. Takdir memang tidak bisa diterka, jadi lebih baik dilupakan saja.

Sesungguhnya, melankolia bukanlah hal yang aneh dari Morrissey. Selama bertahun-tahun, dirinya terbiasa menulis lirik yang puitis tapi nyeleneh, atau indah sekaligus miserable. Sekali waktu dia akan menulis soal penolakan, di lain waktu dia menulis bagaimana indahnya mati bersama ditabrak bus tingkat.

Tahun 1997 dia menulis lagu soal tukang bersih-bersih jendela paling rupawan dan paling menarik yang pernah dia lihat. Morrissey memberi judul "Roy's Keen" untuk lagu yang dibuatnya itu. Dari desas-desus yang sempat berkembang, judul lagu itu merupakan permainan kata dari "Roy Keane". Keane yang dulunya seorang gelandang enerjik digambarkan pria kelas menengah yang sanggup melakukan apa saja.

Pada satu kesempatan, Morrissey dengan sengaja mengubah bagian "We've never seen a keener window-cleaner" pada lagu tersebut, menjadi "We've never seen a keener midfielder". Kita tidak pernah melihat gelandang sebersemangat itu sebelumnya. Dan memang begitulah Keane dulu.

Sama seperti Morrissey, Keane tidak pernah ragu untuk mengungkapkan apa yang dia pikirkan. Jika Morrissey kerap menyindir kolotnya tatanan hidup di Inggris sana, atau mengritik keluarga kerajaan, maka siapalah yang tidak pernah dikritik oleh Keane. Sebagai pemain dan kapten Manchester United, dia membuat perpisahan dengan mengritik terang-terangan rekan satu timnya sampai membuat kuping sang pelatih merah.

(mfi/roz)

Thank's for reading the articelAntara Takdir, Morrissey, dan Roy Keane .If You want to copy paste your website please tag my link Antara Takdir, Morrissey, dan Roy Keane Intro My Website.

0 comments:

Post a Comment