Metrotvnews.com, Kupang: Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan tingkat inflasi menunjukkan tren penurunan mencapai 4,53 persen sampai dengan triwulan III/2014. Angka ini lebih rendah dibanding periode yang sama 2013 sebesar 8,4 persen.
"Ini berarti kebijakan moneter bisa ketat yang diperkuat dengan jalinan koordinasi kebijakan dengan pemerintah, berhasil meredam dampak lanjutan kenaikan harga BBM pada Juni 2013," katanya di sela-sela kegiatan BI Perwakilan NTT, di Kupang, Sabtu (29/11/2014).
Ia mengatakan, meredanya tekanan inflasi dan surplusnya neraca pembayaran telah berdampak positif pada pasar valuta asing.
Tekanan depresiasi dan fluktuasi kurs sepanjang 2014 lebih rendah dibandingkan 2013. Ini didukung pula oleh membaiknya struktur mikro pasar valuta asing, yang tercermin dari volume transaksi di pasar spot antarbank yang meningkat dari USD500 juta per hari menjadi USD1,5 miliar.
Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa langkah dan kebijakan yang ditempuh Pemerintah dan Bank Indonesia, telah berhasil mengembalikan kondisi ekonomi makro kembali pada jalur stabilitas. "Capaian ini perlu kita jaga dan lindungi bersama dari kepentingan-kepentingan pragmatis jangka pendek," katanya singkat.
Ia menyebut, langkah strategis Pemerintah berupa kenaikan harga BBM dan pengalihan subsidi untuk tujuan pembangunan infrastruktur dan sosial serta pendidikan, yang baru saja ditempuh, dalam jangka pendek memang akan meningkatkan tekanan inflasi.
Namun, reformasi tersebut sangat diperlukan agar tersedia ruang fiskal (fiscal space) untuk memperkuat derap laju pembangunan. Oleh karena itu, Bank Indonesia mendukung sepenuhnya "langkah tegas" tersebut, yang manfaatnya akan dirasakan di tahun-tahun mendatang.
Menyusul langkah Pemerintah, Bank Indonesia pada awal pekan lalu menaikkan suku bunga acuan BI rate ke 7,75 persen. Langkah ini menegaskan kembali bahwa yang ditempuh kebijakan moneter bias ketat, sebagai langkah preemptive untuk memitigasi dampak lanjutan kenaikan harga BBM pada tekanan inflasi ke depan.
"Kami ingin memastikan, bahwa tekanan inflasi akibat kenaikan harga BBM hanya bersifat sementara, dan laju inflasi serta ekspektasinya ke depan tetap terjangkar pada kisaran sasaran inflasi 4±1 persen," ujarnya.
Bank Indonesia meyakini dengan inflasi dan ekspektasinya yang terjangkar pada laju yang rendah, tabungan riil dan daya beli masyarakat tidak akan tergerus, sehingga menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi dan laju pengentasan kemiskinan yang lebih kuat ke depan.
Kebijakan moneter yang ditempuh adalah juga untuk memastikan bahwa defisit neraca transaksi berjalan yang sudah berlangsung selama tiga tahun, tetap terkendali di sekitar 2,5-3 persen dari PDB dan tidak membesar.
"Defisit neraca transaksi berjalan yang terkendali sangatlah penting untuk memastikan perekonomian nasional dapat tumbuh kuat dan berimbang, serta penciptaan lapangan kerja dapat terus berlanjut," jelasnya.
AHL

0 comments:
Post a Comment